Menjalani Hidup diumur 18 Tahun

Dulu, saat menginjak usia 15 tahun, aku nggak sabar buat melangkah lebih jauh. Dalam artian, aku nggak sabar menjadi manusia dewasa yang aku kira menyenangkan, bertemu dengan teman-teman baik, menjalani hidup sebagai seorang mahasiswi, mempunyai teman kencan, ataupun keluarga yang semakin supportive karena diriku sudah dewasa sehingga mereka akan mendukung apapun yang ku mau.

Namun, ternyata semua tidak semenyenangkan yang ada di pikiran bocah berumur 15 tahun yang hanya tau tentang bagaimana caranya membuat status di aplikasi biru hitam dengan logo khasnya yang memiliki tiga titik, ataupun membuat status dengan perpaduan angka dan huruf diaplikasi biru dengan logo huruf F. Lucu juga karena pernah punya pikiran bagaimana enaknya menjadi dewasa. Yang saat dijalani membuat hidup serasa di tepi jurang.

Bocah 15 tahun yang pernah punya pikiran tentang bagaimana enaknya dewasa kini sudah menginjak usia 18 tahun dan beberapa bulan lagi akan menginjak usia ke-19 tahunnya. Dia sudah mulai merasakan bagaimana kerasnya dunia yang mengharuskannya menjadi manusia keras dan kuat. Dia selalu berusaha menjalankan apapun yang harus ia kerjakan, namun, di mata orang-orang, dia hanyalah manusia kecil yang tidak berguna. Gadis kecil yang hanya tau bagaimana caranya merengek untuk meminta sesuatu. Padahal, orang-orang tidak akan pernah tau, dia harus menahan tangis setiap hari agar membuatnya sedikit lega atas perlakuan tidak baik dari orang-orang di sekitarnya. Dia juga harus menahan untuk tidak menggoreskan benda tajam di lengan kirinya yang sekarang sudah mempunyai banyak bekas. Karena dia tidak punya tempat ia harus berpulang, sehingga satu-satunya jalan yang bisa membuat ia tenang adalah menggoreskan benda tajam yang ia gunakan untuk melampiaskan beban-beban yang ada dipundaknya.

Bocah 18 tahun ini tidak punya banyak permintaan, ia hanya ingin menjalani kehidupan 18 tahunnya dengan normal. Mempunyai sahabat dekat yang setiap ia sedih, ia tau ke mana ia harus mencurahkannya. Ia ingin mempunyai keluarga yang selalu mendekapnya dan siap mendengarkannya bercerita ketika ia kesulitan untuk menjalani kehidupannya. Ia ingin mempunyai teman kencan seperti teman-teman sebayanya yang bahagia saat bertemu dengan teman kencannya dan mengambil video pendek saat bermain bersama teman kencannya. Itu saja. Tidak banyak.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ditemukan Untuk Pertama Kalinya

Someone New. Siapa tuh?